Logo Madrasah Tinta Umat Daftar Santri Baru
Beranda Profil Program Jenjang Fasilitas Galeri Berita Artikel Pendaftaran Kontak Daftar Santri Baru
Beranda/ Artikel/ Mengapa Al-Qur’an Harus Menjadi Pondasi...
Parenting Qur’ani 05 Mei 2026 · Ust. Furqon Abu Amir

Mengapa Al-Qur’an Harus Menjadi Pondasi Pendidikan Anak

Mengapa Al-Qur’an Harus Menjadi Pondasi Pendidikan Anak

Banyak orang tua bertanya: pada usia berapa sebaiknya anak mulai diperkenalkan dengan Al-Qur’an? Pertanyaan itu wajar, tetapi ada pertanyaan yang lebih mendasar — di posisi mana Al-Qur’an kita letakkan dalam pendidikan anak. Sebagai pelengkap sesudah pelajaran lain selesai, atau sebagai pondasi yang di atasnya semua ilmu lain dibangun?

وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ ٱلْكِتَٰبَ تِبْيَٰنًا لِّكُلِّ شَىْءٍ

“Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab sebagai penjelas segala sesuatu.” — QS. An-Nahl: 89

Pondasi menentukan bentuk bangunan

Anak usia 5–12 tahun sedang menyusun kerangka berpikirnya. Apa yang paling sering ia dengar, ia baca, dan ia lihat dihargai oleh orang dewasa di sekitarnya akan menjadi ukuran nilai yang ia pakai seumur hidup. Bila Al-Qur’an hadir setiap hari dan diperlakukan sebagai yang paling utama, anak menyimpulkan sendiri bahwa inilah rujukan tertinggi — tanpa perlu kita ceramahi.

Sebaliknya, bila Al-Qur’an hanya muncul saat waktu luang, anak juga menyimpulkan sendiri: ini urusan sampingan. Kesimpulan itu terbentuk diam-diam, jauh sebelum ia mampu merumuskannya dengan kata-kata.

Tiga hal yang berubah ketika Al-Qur’an diletakkan di depan

  • Cara anak memandang ilmu lain. Berhitung, membaca, dan pengetahuan alam tidak lagi berdiri sendiri, tetapi dipahami sebagai alat untuk mengenal ciptaan Allah dengan lebih baik.
  • Cara anak menilai perbuatannya. Ukuran benar–salah tidak hanya “dimarahi atau tidak”, tetapi merujuk pada apa yang Allah dan Rasul-Nya ajarkan.
  • Kesiapan menerima adab. Anak yang akrab dengan Al-Qur’an lebih mudah menerima koreksi, karena ia mengenal sumber koreksinya.

Yang bisa dimulai dari rumah

Madrasah menyediakan halqoh dan pendampingan pengajar, namun pondasi tetap dibangun di rumah. Mulailah dari yang paling sederhana dan konsisten: satu waktu tetap setiap hari untuk membaca bersama, walau hanya beberapa ayat. Konsistensi kecil yang berjalan setahun jauh lebih membekas daripada semangat besar yang berhenti di pekan ketiga.

Dan yang terpenting: anak lebih banyak belajar dari apa yang ia lihat pada orang tuanya daripada dari apa yang ia dengar. Ketika ia melihat ayah dan ibunya membuka mushaf tanpa disuruh siapa pun, di situ pelajaran yang sesungguhnya sedang berlangsung.

← Semua Artikel Daftar Santri Baru

Artikel Lainnya